Wednesday , April 24 2024

Tips Memakai Indikator RSI Saham Supaya Untung

Indikator RSI saham biasa dipakai untuk mengukur momentum pergerakan harga. Selain dapat membacanya, trader harus paham bagaimana cara meraih untung dengan indikator tersebut. Tips-tips yang dapat digunakan supaya memperoleh profit yakni:

1. Tambah Divergensi RSI

Ketika indikator turun serta harga naik di titik tertentu, maka keadaan ini disebut divergensi. Keadaan tersebut ditambahkan supaya dapat menetapkan sinyal Reversal Sell. Dalam saham, divergensi terbagi menjadi dua, yakni Bearish Divergence serta Bullish Divergence.

Bullish divergence adalah indikasi bahwa ada kenaikan harga di pasar, sedangkan Bearish menunjukkan bahwa harga akan turun. Bila terjadi momen Bullish, sebaiknya lakukan order dengan posisi Buy. Namun jika harga turun sebaiknya jangan lakukan Entry.

2. Pakai Failure Swing

Seperti divergensi, Failure Swing terbagi menjadi jenis Bullish dan Bearish. Jenis Bullish terjadi saat harga ke atas dan indikator di bawah level 30. Sedangkan Bearish terjadi saat harga ke bawah dan RSI di atas 70.

Kondisi tersebut juga hampir sama dengan divergensi, yang mana harga gagal mempertahankan tren. Memanfaatkan Failure Swing dapat memberi hasil analisa akurat meski jarang terjadi. Trader bisa melakukan order beli ketika Bullish dan menjual ketika Bearish.

3. Abaikan Oversold dan Overbought

Indikator RSI dibentuk dengan perbandingan jumlah perubahan harga lebih rendah atau negatif dengan yang lebih tinggi untuk periode tertentu. Jikalau setelah itu harga tidak berubah, maka RSI akan terus berada di kondisi Oversold atau Overbought.

Oleh karenanya metode entry dengan Oversold dan Overbought RSI jadi tidak akurat saat harga bergerak kuat dalam waktu panjang. Dalam kondisi ini ada baiknya bila trader dapat mengamati indikator trend terlebih dahulu sebelum indikator RSI.

4. Tambah Konvergensi

Tips memakai indikator RSI saham yang selanjutnya yakni menentukan sinyal Buy dengan menambahkan konvergensi. Kondisi konvergensi terjadi setelah adanya persilangan kurva pergerakan harga dan indikator. Dalam kondisi tersebut harga jadi bergerak turun.

Ketika kurva RSI menunjukkan level lembah tinggi atau Higher Low, kurva harga menunjukkan level Lower High dan Low. Kemudian trader dapat menentukan titik entry Buy ketika RSI di titik Resistance atau tembus level 50.

5. Pakai Level RSI 0

Untuk mengukur kekuatan tren, sebaiknya pakai level indikator RSI 0. Momentum harga ditampilkan pada indikator dari Welles Wilder tersebut, baik di bawah ataupun di atas level 50.

Apabila RSI melintasi level 50, maka momentum bisa berubah arah. Tren akan turun bila harga ada di bawah level 50. Sedangkan jika di atasnya kemungkinan besar tren juga mengarah ke atas.

6. Sesuaikan RSI dengan Time Frame Trading

Welles Wilder, pencipta indikator RSI, menganjurkan trader memakai periode 14 di Time Frame Daily. Menurutnya periode waktu pengukuran kurang sensitif bila semakin besar. Bila periode waktunya semakin kecil, maka semakin sensitif dan menyulitkan pengamatan.

Periode 14, yang menjadi parameter Default, kurang akurat bagi Time Frame yang rendah, namun cocok bagi Daily. Maka dari itu, jangan mengacu pada Default jika memakai RSI di Time Frame yang tidak sama dengan Daily.

7. Gabungkan Moving Average

Trader tidak dapat bergerak sembarangan sebelum entry point. Ketika analisis pasar, kurva Moving Average serta indikator RSI akan bersilangan. Oleh karena itu, coba ukur pergerakan harga dengan mengombinasikan Moving Average.

Sinyal entry dari RSI serta Moving Average lebih akurat ketika market dalam tren. Penting untuk memperhatikan kekuatan tren serta pergerakan harga. Umumnya cara ini efektif bagi trading jangka panjang.

Begitulah tips memakai indikator RSI saham yang paling disarankan. Segera terapkan ketujuh tips yang tertera di atas dan raih untung secara maksimal.